
Mungkin benar, semuanya berorientasi pada keuntungan semata. Rasanya apapun akan dilakukan untuk kepentingan bisnis dan ujung-ujungnya pasti duit yang meraja dan berkuasa. Menyikapi tayangan televisi nasional kita, rasanya makin sulit untuk melihat tontonan yang berkualitas, edukatif sekaligus menghibur.
Sinetron yang jadi pangsa pasar berprospek bagus, senantiasa menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan dan menggiurkan. Hampir disemua chanel (kecuali Metro TV) tv nasional kita ada sinetronnya. Walaupun berbeda judul dan pemain, tapi hampir semua sinetron mengangkat topik yang sama, gak jauh dari masalah romantisme semu yang mendayu-dayu dan penuh dengan linang air mata. Memuakan!!!
Model sinetron kita gak usah rumit!, Cukup mengandalkan tampak cantik, wajah ganteng dan sedikit kemampuan akting kemudian cerita skenario yang berbelit-belit plus cerita klise, Maka dijamin SUKSES!. Apalagi kalau didalamnya dibumbui unsur mistis, sex, perselingkuhan, dan penghianatan maka Oplahnya akan semakin naik.
Rumus jitu lainnya adalah: Tokoh utama harus miskin, menderita, doyang nangis, banyak yang ngejahatin tapi tetep harus cuantik (misalnya sinetron: Candy, Cinderella, Cinta Fitri, dll-dll), kemudian sitokoh menemukan Cinta Sejati (biasanya cowoknya orang kaya!). kemudian tidak direstui keluarga si cowok (biasanya ibu mertua nya jahat banget), bla..bla..bla...(disini biasanya penderitaan sitokoh utama datang bertubi-tubi). Dan akhirnya akan ada keajaiban yang mengubah segalanya....alias happy ending!!!!
Mungkin untuk beberapa tahun kedepan atau bahkan untuk selamanya, rasanya kita (baca: masyarakat Indonesia) tidak akan menemukan tontonan yang ideal, berkualitas dan menghibur. Sinetron sampah tetap akan mendominasi acara TV kita. Mungkin memang kita semua suka sampah!, dan ternyata "Sampah" paling diminati.
(herman for hermsylar.multiply.com)